Selasa, 03 Februari 2009

Inilah Hidup.....

Hampir tiap hari, ketika aku berangkat ke kantor, aku bertemu sepasang pemulung, atau pengumpul sampah rumah tangga.
Si Ibu berada dibelakang gerobak , mendorong, sedangkan si bapak didepan, menarik gerobak sampah itu.

Usia mereka tidak bisa dibilang muda lagi, kira-kira 60 tahunan. Tapi badan mereka seperti anak SD berusia 11 tahun. Mereka kecil, kurus dan kotor. Ketika aku dekati, lebih jelas lagi terlihat badan mereka yang ringkih, hanya sedikit daging yang bisa aku liat ditangan mereka. Baju yang dipakai oleh si ibu, sudah tidak jelas warna aslinya, apakah itu putih, abu-abu atau bahkan hitam.

Setiap aku melihat mereka, miris aku merasakan.
Di usia lanjut seperti itu, mereka seharusnya sudah bisa menikmati hasil kerja mereka selama ini, bukannya harus bersusah payah untuk membiayai hidup mereka. Mungkin apa yang mereka kumpulkan tiap harinya, hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Kadang aku sempat berpikir, dimana mereka tinggal, dimana mereka tidur, rumah seperti apa yang menaungi mereka, untuk mereka melepas lelah setelah seharian mendorong-dorong gerobak yang sudah reot karena diisi beban yang pasti tidak ringan itu.

Kemudian aku berpikir, aku, yang tiap harinya bisa tidur dikamar yang luas, dengan tempat tidur yang nyaman dan besar, rapi dan wangi... masih saja suka berkeluh kesah dengan segala yang aku tidak punya, dengan segala iri hati atas keberhasilan teman-teman sebaya yang mampu meraih melebihi apa yang bisa aku raih. Aku, yang tiap harinya masih bisa jalan-jalan di mall, belanja bulanan disupermarket besar, masih saja suka berkeluh kesah dan menyesali, kenapa tidak bisa membeli jam guess yang aku liat di mall, Handphone keluaran terbaru, etcetera etcetera.

Sepasang orang tua itu, kembali aku temui dijalan yang berbeda, jauh dari tempat pertama aku bertemu mereka.
Masih dengan baju yang sama, masih dengan posisi yang sama, dengan kondisi yang berbeda,, hujan.... Tapi mereka masih mendorong-dorong gerobak sampah yang sama.

Kemudian aku berpikir, dimana anak-anak mereka. Dimana sanak keluarga mereka. Kenapa keluarga mereka tega membiarkan mereka bekerja keras seperti itu, dimana hati nurani mereka semua????

Dilain kesempatan, aku mengunjungi panti asuhan disuatu daerah agak terpencil.
Anak asuh ditempat itu sekitar 200 orang, laki-laki dan perempuan, dengan usia sekitar 7 tahun sampai 18 tahunan.

Ketika aku turun untuk melihat kondisi asrama mereka,,,, hanya satu yang bisa aku ucapkan... tempat ini tidak layak huni.
Asrama mereka terdiri dari kamar-kamar, yang siang harinya digunakan untuk ruangan kelas belajar. Tempat ini kumuh, kotor, seperti habis diterjang tsunami.
Mungkin karena ini musim hujan, tapi aku yakin, tidak musim hujanpun, tempat ini tidak banyak berbeda.

Aku heran, diruangan-ruangan itu, tidak satupun aku melihat adanya kasur ataupun kursi-kursi. hanya ruangan kosong, dengan lantai seadanya. bahkan aku lihat, didepan salah satu ruangan, ada seutas tali yang dipasang, mungkin untuk menjemur baju anak-anak itu.
Aku bertanya sendiri, dimanakah mereka tidur?? Tidak beralas apapunkah mereka tidur? Hanya diatas lantai dingin, yang kalau musim dingin akan bertambah dinginnya berpuluh-puluh kali lipat.

Dimanakah mereka belajar? Mampukah otak mereka yang masih murni menangkap pelajaran, jika mereka harus belajar sambil duduk diatas lantai yang dingin?????

.......................... aku tidak mampu berkata-kata.

Kemudian aku bandingkan lagi dengan hidupku,, yang penuh dengan kehangatan. Rumah yang bersih, rapi dan wangi. Yang menyambutku dengan hangat setiap aku pulang kerja.
Hidupku yang penuh dengan kemudahan, bisa makan enak setiap harinya. Bisa tidur dengan selimut yang tebal kalau kedinginan, bisa tidur dengan bantuan pendingin ruangan jika cuaca sedang panas.
Itupun aku masih selalu, bahkan terlalu sering,, berkeluh kesah dan tidak pernah puas dengan apa yang aku punya. Masih berkeluh kesah dengan semua masalah yang sebenarnya tidak terlalu berat.
Aku, yang terkadang karena pekerjaan kantor yang melelahkan, bersikap bad mood kepada orang-orang rumah, yang kadang marah tanpa alasan......

Aku benar-benar menangis sekarang.... menangis untuk kekurang bersyukuranku kepada Yang Punya Hidup,,, kepada Yang Maha Pencipta.

Apa yang aku punya sekarang, apa yang sudah aku raih sekarang, sudah lebih lebih dari cukup jika dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh sepasang orang tua pemulung itu. Apa yang sudah aku nikmati saat ini, sudah jauuuhh lebih dari cukup jika dibandingkan apa yang dirasakan oleh anak-anak panti asuhan tadi.

Sekarang, aku memang harus lebih bijaksana untuk menghadapi hidup ini....
Apapun, jika dibandingkan dengan yang diatas, tidak akan pernah ada puasnya.
Kenapa tidak kebaikan, kemurah hatian saja yang kita bandingkan dengan yang diatas???? Mungkin dengan demikian, aku akan lebih bisa menikmati apa yang aku punya sekarang. Lebih bisa bersyukur,,, atas apapun yang telah aku punya dan dapatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar